Mereka juga Manusia

Desember 14, 2015

Siang itu, ada pemandangan menarik bagi Rizqi dan Frida di sebuah tempat wisata di Batu – Jawa Timur. Seorang ibu keturunan chinese sepertinya, berumur setengah baya bersama 3 anaknya. Yang menarik perhatian adalah satu anaknya yang duduk di kursi roda dengan posisi kepala yang tak terlalu sempurna. Tak tahu apa yang menyebabkan anak itu seperti itu. Tentu karena memang mereka tak menanyakan itu. Mereka hanya melihat apa yang dilakukan oleh ibu ini dan anak-anaknya.

Anak pertama ibu ini mungkin berumur sekitar 15-17 tahun, anak keduanya yang berada di kursi roda dan yang ketiga berumur sekitar 11-12 tahun. Menarik untuk dilihat dan diamati karena sepertinya keluarga ini mencintai anggota keluarganya yang kurang sempurna ini. Adiknya bergantian bersama dengan ibu dan kakaknya mendorong kursi roda memasuki wahana-wahana yang ada di tempat wisata itu. Terkadang terdengar gelak tawa yang lepas dari mereka. Sedangkan anak yang berkursi roda mengikuti gelak tawa itu dengan senyum simpul di bibirnya. Roller coaster yang terlalu tinggi dan panjang lintasannya juga dicobanya, termasuk anak yang berkursi roda ini.

Ketika bertemu lagi dengan ibu serta 3 anaknya di pintu keluar, Rizqi mencoba bersikap ramah dan menyapa ibu ini .

“Berani juga ya bu anaknya naik roller coaster.” sapa Rizqi dengan bermaksud memuji anak yang berkursi roda.

“Iya pak, dia lebih berani daripada kakaknya meski gak bisa jalan.” Jawab ibu itu

“Dari mana bu ?” tanya Rizqi lagi basa-basi

“Semarang pak .” jawab ibu itu sambil terus mendorong kursi roda anaknya menuju mobil yang sudah menunggunya di pelataran parkir.

“Mari pak. Terima kasih pak” lanjut ibu itu

“Ya bu. Sam-sama. Mari bu. “ jawab Rizqi kemudian dan akhirnya mereka masuk ke dalam mobilmasing-masing.

Di dalam mobil, Frida berkomentar terhadapa apa yang dilihatnya.

“Luar biasa ya mereka. Bahkan adiknya juga ikut mendorong kursi roda itu. Keluarga yang bahagia nampaknya. Ibu itu sepertinya menerima anak itu apa adanya.” Kata Frida pada Rizqi di dalam mobil

“Seharusnya, semua orang tua yang mendapat anak berkebutuhan khusus memperlakuakan anaknya dengan kasih sayang seperti itu. “ lanjut Frida.

Pembicaraan dalam perjalan pulang ini akhirnya seputar tentang anak berkebutuhan khusus. Mulai dari perlakuan orang tua hingga sekolah yang berkaitan dengan ini.

Anak-anak seperti May Lan (anggap saja itu namanya), tak pernah memilih mengapa mereka ditakdirkan Tuhan dengan keadaan seperti itu. Pun juga sang Ibu juga tak pernah berdoa untuk mendapatkan anak seperti May Lan yang punya kekurangan. Jika diperbolehkan untuk memilih, tentu May Lan dan ibunya tak memilih keadaan ini. Ini adalah pemberian dari Tuhan. Sama seperti ketika seorang ayah & bunda mendapatkan anaknya dalam keadaan yang sempurna ketika dilahirkan.

Sayang, banyak anak lain seperti May Lan yang belum terlalu beruntung. Mulai dari ayah yang “menolak” anaknya dan menyalahkan ibunya karena keadaan anaknya. Atau ketika sang ibu yang tak juga siap menerima keadaan anaknya. Atau juga keluarga besar yang menganggap anak-anak ini sebagai beban yang harus dihindari.

Melihat anak-anak seperti ini, pikiran Rizqi melayang ke negeri nun jauh di sana, di Utara Eropa, Finlandia. Negeri kecil yang katanya pendidikannya nomer wahid di dunia. Di sana, dari beberapa referensi, sangat menghargai pendidikan untuk anak-anak yang memiliki keterbatasan, baik keterbatasan karena alasan psikologis maupun fisik. Bahkan, guru-guru khususnya adalah guru-guru terbaik yang telah mengabdi lebih dari 5-7 tahun. Bukan guru sembarangan tentunya.

Sering dalam forum-forum seminar di Indonesia, Finlandia dijadikan rujukan oleh para pemateri. Dari capaiannya di PISA, penangananan anak-anak berkebutuhan khusus hingga pembahasan mengenai sedikitnya jam belajar di sekolah dibandingkan negara-negara seperti Korea, Amerika atau negara maju lainnya.

Tapi, Indonesia bukanlah Finlandia. Sekolah-sekolah di Indonesia masih lebih menganggap prestasi akademik adalah hal utama. Anak-anak seperti May Lan, kadang dianggap akan menjadikan beban bagi sekolah. Masih dianggapa akan membuat citra sekolah turun karena nilai Unnya di bawah rata-rata. Maka, sejak dari awal, anak-anak seperti May Lan akan ditolak masuk sekolah dengan alasan tidak lolos tes. Tidak sesuai standar QA/QC sekolah. Mirip di pabrik saja.

Alasan tidak ada SDM sering diungkapn oleh sekolah untuk tidak menerima anak-anak itu. Jika itu alasannya, harusnya ada langkah untuk menuju ke sana. Bukan kemudian menikmatinya bertahun-tahun tanpa ada langkah menuju ke sana. Atau juga, tidak menjadikan tes-tes masuk sekolah sebagai seleksi untuk menerima anak-anak unggul saja. Guru di sekolah adalah penerus kenabian. Jika, rasul saja ditegur oleh Allah karena memalingkan muka pada Ummu Maktum, bagaimana dengan guru-guru, kepala sekolah dan yayasan yang sengaja tidak menerima anak-anak itu ? Bisa jadi, anak-anak yang ditolak itulah nanti yang akan menjadi penopang dakwah bukan sebaliknya. Sama seperti Ummi Maktum yang akhrinya menjadi sahabat utama Rasulullah.

Sekolah adalah lembaga pembangun peradaban. Dan peradaban tak hanya diisi oleh orang-orang “unggul” saja, tapi juga diisi dengan rasa kemanusiaan dan empati dari bagaimana manusia-manusia di dalamnya memperlakukan manusia laiinya. Jika, orang-orang yang “lemah” saja juga diperlakukan setara dengan manusia lainnya, itulah sebenarnya setinggi-tingginya peradaban manusia. Sama seperti bagaimana Rasulullah memperlakukan Ummi Maktum dalam mendapatkan ilmu dan rasa kasih sayang.  Tapi sayang, itu masih jauh dari  banyak sekolah di Indonesia dan mari kita bermimpi untuk itu.

Suroboyo, patbelas desember rong ewu limo las

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *