Di Diklat asrama pekan lalu, sekali lagi saya mendapatkan pertanyaan ini dari seorang peserta. Dan hampir di setiap pelatihan, akan muncul pertanyaan semacam ini.
QA dan QC hasil akhir sebenarnya bukan khas lembaga pengelola manusia seperti sekolah dan rumah sakit. Tapi ini adalah khas dari industri manufaktur. Industri wajib menjanjikan kepada konsumennya , standar barang yang akan diterima oleh konsumennya. Sedangkan di RS dan sekolah, ini akan menjadi sangat sulit, karena variabel yang ada jauh lebih banyak.
Dan memang hingga hari ini, tak ada 1 RS pun yang menjamin setiap tindakan yang mereka lakukan. Jaminan yang mereka berikan bukan pada hasil, tapi pada proses yang diberikan.
Saya akan gambarkan bagaimana proses QA dan QC di manufaktur dan dibandingkan dengan lembaga pendidikan.
Pertama. Dari raw material. Manufaktur akan melakukan seleksi ketat untuk bahan baku yang akan diterima mereka dari supplier. Sedikit saja ada yang tidak sesuai dengan standar mereka, pabrik akan mengembalikan kepada supplier. Pertanyaannya, apakah sekolah melakukan itu ? Sebagian ada yang melakukan seleksi itu, dan sebagian tidak.
Kedua. Dalam proses panjang, di setiap proses, pabrik akan memiliki standar, meski
Raw material dan proses dijaga, tetap saja akan ada kondisi yang membuat hasil tidak sesuai standar. Lalu, apa yang dilakukan oleh pabrik ? Pabrik akan melakukan afkir ke produk-produk itu.
Di hasil akhir, meski produk-produk itu diawasi prosesnya dengan ketat, tetap aja di hasil akhir ada produk-produk yang tidak sesuai standar kondusmen, dan untuk kesekian kalinya, pabrik akan membuang produk tersebut. Jadi, jika dihitung dari raw material sampai produk jadi, akan ada material yang dibuang karena tidak sesuai spesifikasi pabrik. Semakin baik efisiensi pabrik, maka semakin kecil rasio antara raw material dan produk yang dibuang.
Nah, jika kita masuk ke dunia pendidikan, berarti akan ada siswa yang “dibuang” atau afkir karena tidak memenuhi standar kelulusan. Pertanyaannya, mungkinkah kita melabel itu pada siswa kita ?
Pertanyaan berikutnya adalah, jika pabrik saja tidak mungkin menjadikan 100% raw material jadi produk akhir yang sesuai spesifikasi pabrik, mungkinkah sekolah dengan variabel yang jauh lebih kompleks bisa mendapatkan produk siswa yang sesuai semua dengan standar yang ditetapkan ?
Jekan Raya , 30 April 2024
#BabahAca