Kapok

Dalam sebuah pelatihan sekolah berasrama, kami mendapatkan bahwa salah satu mengapa masih ada hukuman (baik hukuman fisik, maupun lainnya) di asrama adalah karena pengelola meyakini bahwa membuat jera atau kapok adalah salah satu cara yang paling efektif untuk membuat anak tidak melakukan kesalahan lagi. 

Coba kita lihat terkait ini dari sisi ragamnya kondisi anak.

Kondisi pertama. Kondisi anak secara umum. Secara umum, bisa jadi anak akan merasa kapok atau jera untuk melakukan kesalahan yang sama. Bisa jadi, anak akan paham atau bisa jadi juga anak hanya akan menghindari hukuman untuk tidak melakukan kesalahan lagi. Bisa jadi tidak ada dampak psikologis yang terlalu berarti untuk anak model seperti ini.

Kondisi kedua. Anak yang lemah secara psikologis. Beberapa anak datang ke sekolah dengan kondisi psikologis yang tidak matang. Banyak faktor penyebabnya tentunya. Selain karena pola asuh, bisa juga kondisi fisik atau lainnya. Anak-anak seperti ini, jika mendapatkan hukuman, apalagi hukuman yang membuatnya malu, maka yang akan terjadi adalah akan memperburuk kondisi psikologisnya. Bahkan sebagian bisa jadi akan menjadi stres dan depresi.

Kondisi ketiga. Kondisi anak tahan banting (atau kata lain anak buandel). Bagi anak-anak dengan kondisi ini, hukuman kadang hanya selingan bagi mereka. Bahkan saya pernah mendapatkan cerita dari seorang anak yang pernah mempermainkan gurunya dengan cara membuat kesalahan. Dan kemudian dihukum oleh gurunya. Lalu, apakah kapok ? Ternyata tidak katanya. Bahkan dia dan teman-temannya tertawa terbahak-bahak di dalam kamar selepas gurunya menghukum, mereka merasa memenangkan pertandingan. 

Membuat anak disiplin memang bukan hal yang mudah. Karena Meraka adalah makhluk berakal dan merdeka. Begitu fitrahnya. Maka kita sebagai guru perlu mencari tahu bagaimana mengambil hatinya, bukan menggunakan kekuasaan untuk menegakkan disiplin. 

Menteng, 18 Januari 2024

#BabahAca

(TOLONG KALAU KOMEN, JANGAN SANGKUTKAN DENGAN CAPRES-CAPRESAN)

Penyebab tantrum pada orang dewasa dapat bervariasi, dan seringkali merupakan hasil dari kombinasi faktor-faktor tertentu. Beberapa faktor yang dapat menyebabkan tantrum pada orang dewasa meliputi:

1. Stres: Beban stres yang tinggi dalam kehidupan sehari-hari dapat menyebabkan orang dewasa lebih mudah tersulut emosi dan rentan terhadap tantrum. Stres dari pekerjaan, hubungan interpersonal, masalah keuangan, atau masalah pribadi lainnya dapat berkontribusi pada munculnya tantrum.

2. Frustasi: Ketika orang dewasa menghadapi hambatan atau kesulitan yang sulit diatasi, mereka mungkin merasa frustasi dan tidak mampu mengendalikan emosi mereka. Rasa frustasi yang terakumulasi dapat menyebabkan terjadinya tantrum.

3. Masalah emosional: Beberapa orang dewasa mungkin memiliki masalah emosional seperti kecemasan, depresi, atau gangguan pengendalian emosi. Ketidakmampuan untuk mengelola emosi dengan baik dapat meluap menjadi tantrum.

4. Gangguan kesehatan mental atau fisik: Beberapa gangguan kesehatan mental atau fisik seperti gangguan bipolar, ADHD, atau gangguan kecemasan dapat mempengaruhi kemampuan seseorang untuk mengendalikan emosi dan meningkatkan risiko munculnya tantrum.

5. Kurangnya keterampilan yang efektif dalam mengelola emosi: Beberapa orang dewasa mungkin tidak memiliki keterampilan yang efektif dalam mengelola emosi mereka. Mereka mungkin tidak mampu mengidentifikasi atau mengungkapkan emosi dengan cara yang sehat, yang dapat menyebabkan akumulasi emosi dan kemunculan tantrum.

Penting untuk mengingat bahwa tantrum pada orang dewasa tidak normal atau sehat, dan biasanya merupakan gejala dari masalah yang mendasarinya. Jika tantrum terjadi secara teratur dan mengganggu kehidupan sehari-hari, sangat penting untuk mencari bantuan profesional seperti psikolog atau konselor untuk mendapatkan evaluasi dan bantuan dalam mengatasi masalah yang mendasarinya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *