Akhir-akhir ini, kita mendengar istilah baru tentang stigma pada anak-anak yang lahir di atas tahun 2000an, dengan istilah generasi strawberi. Stigma ini diibaratkan bahwa mereka tampak indah di luar, tapi lembek atau tidak tangguh di dalamnya. Bisa jadi stigma ini benar adanya. Menggambarkan kondisi sesungguhnya mereka. Tapi…?
Tapi, jika kita bertanya lebih dalam, strawberi itu ada bijinya, ada induknya, dan siapa induknya ? Strawberi juga ada petaninya, jika kita bertanya, siapa petaninya? Tentu kita sudah bisa menjawab itu.
Kita kupas ya pelan-pelan, apa yang kita lakukan pada anak-anak ini, yang secara fitrah harusnya tumbuh sebagai pribadi yang tangguh, tapi kenyataannya mereka rapuh dan dan lembek.
Pertama, sebagian besar orang tua yang tumbuh sekarang berasal dari orang tua yang pindah kelas, dari low-midle menjadi midle-high , yang dulunya merasa hidupnya berat dan tak ingin pengalaman buruknya itu kemudian turun ke anaknya. Apa dampaknya? Orang tua terlalu banyak memberikan fasilitas yang sesungguhnya tidak diperlukan oleh anak. Ya, bisa jadi sekarang kita dimudahkan dengan teknologi, mesin cuci misalnya. Tapi sebenarnya anak masih bisa punya kontribusi melakukan dengan cara memasukkan baju, memberi sabun dan kemudian menjemurnya. Tapi faktanya, beberapa orang tua merasa itu bagian dari pengalaman tak menyenangkan yang seharusnya anak tidak perlu merasakan sekarang. Padahal, menurut penelitian, ketangguhan bisa diajarkan dengan memberi tugas-tugas rumahan pada anak.
Kedua, salah kaprah akademis. Selama ini, akademis hanya diartikan kemampuan anak dalam merespon buku paket. Padahal akademis itu jauh lebih luas dari itu. Kemampuan anak menggunakan teori untuk sesuatu yang kontekstual, logika berpikir , dan kemampuan literasi juga bagian dari akademis. Belajar anak terlalu sempit, hanya mengandalkan buku paket dan tidak kontekstual yang berhubungan dengan hidup anak. Jadinya, anak mampu mata pelajaran yang ada di buku paket, tapi kemampuannya menyelesaikan masalah hidupnya rendah, karena tidak pernah mempelajarinya.
Ketiga, semua serba instan. Kita sebagai orang tua, ingin hasil yang buru-buru. Dan akhirnya beberapa dari kita mengasuh mereka tidak sesuai dengan usia perkembangannya. Anak baru masuk sekolah 2-3 bulan, orang tua sudah panik dengan anak yang belum bisa membaca, padahal anak juga baru usia 4-5 tahun. Apa dampaknya? Banyak perkembangan awal anak yang tidak terstimulasi dengan tuntas karena orang tua fokus ingin dapat hasil segera, dan ini kemudian mengakibatkan anak tumbuh tidak matang.
Keempat, dunia sudah berubah, dan kita sebagai orang tua tidak sigap dengan perubahan itu. Kita tidak menyiapkan diri dengan bekal ilmu yang cukup dalam mengasuh. Padahal, semua amal itu perlu landasan ilmu yang mumpuni.
Jika sudah seperti ini, patutkah kita memberikan stigma pada mereka? Baiknya memang, kita sebagai orang tua yang perlu instrospeksi, pola asuh seperti apa yang kita terapkan agar mereka menjadi generasi yang tangguh ke depan.
Thank’s Abah Rizqi Tajuddin
#HumanCenteredEducation
#MentalHealthatSchool