Belajar dari Kesalahan (Bagaimana Qassam n Qawwam berperan sebagai ayah)

Juli 28, 2018

Salah satu hak anak yang juga kebutuhan pokoknya adalah kebutuhan akan pembelajaran. Salah satu yang dianggap memenuhi kebutuhan pembelajaran adalah diberinya kesempatan oleh orang tuanya untuk melakukan kesalahan. Karena dari kesalahan itu anak akan belajar. Anak akan mencoba lagi agar dirinya merasa berhasil. Prestasi adalah ketika akhirnya ada progres positif dari kesalahan yang dibuatnya.

Lihat saja bagaimana anak belajar berjalan. Entah berapa puluh kali mencoba dan terjatuh. Dan kita sabar menunggu dan memberi apresiasi dan motivasi pada mereka.

Yang dibutuhkan anak yang melakukan kesalahan atau kegagalan bukanlah kritikan, bukan juga omelan apalagi hukuman.

Anak butuh respon positif dari orang tuanya. Respon positif itu bisa berupa memberi rasa aman bahwa gagal atau salah itu biasa. Bukan berarti kemudian kesalahan itu dibiarkan, anak tetap akan bertanggung jawab pada kesalahan yang dibuatnya. Misal seperti kasus yang terjadi pada Gaza tadi malam.

Tadi malam selepas isya, Gaza mencoba ambil air dari galon yg sudah dipasang kaki dan kran di ujung mulut galon.

Sengaja kami membeli alat ini, karena selama ini Gaza kesulitan mengambil air sendiri. Meski dia punya autonomi (insiatif untuk meminta tolong), tapi akhirnya membuatnya tergantung pada orang di sekitarnya untuk mengambil air minum.

—-

Bunda: Ga, gelasnya tempelin ke mulutnya corong biar ga tumpah

Gaza: nggak usah, taruh dilantai juga bisa. Kan airnya kebawah juga Bun.

Bunda: sini Bunda contohin

Qosam: jangan bun, gak usah. Kasi kesempatan dia salah. Nanti kan belajar akibatnya

Bunda: iya tp ntar ngepel

Qowam: gpp Bun, kami yg ngepel

Kran galon pun dipencet, air keluar melengkung agak jauh dari gelas yg diletakkan gaza persis dibawah corong

Gaza: ouw, tumpah ya. Harusnya diletakkan lebih jauh disini ya Bun.

Bunda: iya, atau?

Qosam : diletakkan pas dicorongnya

Gaza: ok siap

Qowam: ayo kita pel Ga

——

Di kejadian ini, banyak hal yang bisa dipelajari.

Pertama. Bahwa abang2 Gaza, Qassam (12 thn) dan Qawwam (10 thn) memberi kesempatan pada Gaza untuk berbuat salah. Mereka tahu bahwa salah itu adalah proses belajar.

Kedua. Abang-abang Gaza memberikan dukungan dengan cara meyakinkan kami sebagai orang tuanya bahwa mereka akan membantu Gaza mengepel lantai yang basah jika Gaza gagal.

Ketiga. Abang-abang Gaza konsisten dengan menagih agar Gaza tetap mengepel dan membantu Gaza mengepel akibat dari gagalnya Gaza di percobaan pertama.

Keempat. Gaza akan belajar bagaimana meletakkan gelas agar air tidak tumpah.

Kelima. Sikap positif abang-abang Gaza ini bukan tiba-tiba. Tapi proses dari pengasuhan yang lama dan patut. Dan dahsyatnya adalah mereka mengambil sisi positif pola asuh kami, karena tidak jarang kami menghalangi mereka melakukan kegiatan karena takut mereka melakukan kesalahan dan merepotkan kami. Fitrah anak-anak sesungguhnya lebih bersih

Mereka tahu mana yang benar yang harus dilakukan.

19 Juli 2018

Rizqi Tajuddin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *