Generasi Orang Tua Instan dan Industri Persekolahan

Kalimat ini terlintas dari istri saya @fridaayunurhayati ketika kami mengobrol santai tanggal 10 April lalu di Zoom Hotel Surabaya. 

Sebagian dari pendidik memberikan label bahwa kondisi anak-anak sekarang adalah anak-anak yang inginnya instan. Semua inginnya segera. Ambil jalan pintas, meski kadang jalan yang diambil tidak rasional dan seharusnya butuh proses yang lama. 

Kita lupa bahwa anak itu cermin dari pengasuhan orang tuanya. Mengapa mereka menjadi generasi yang instan, ya karena memang kita mengasuh mereka dengan pola pikir yang instan. Ingin segera, tidak sabar dalam proses, dan silau dengan janji-janji program yang bisa mengubah segera perilaku atau kemampuan anak. 

Maka, tak heran, program-program pendidikan dan program ingin kaya segera yang menjanjikan sesuatu yang instan laku keras meski tidak rasional. Sekolah menjanjikan hasil akhir, bukan proses yang patut yang dijanjikan. 

Orang tua instan ini adalah orang-orang yang punya banyak kecemasan melihat kondisi lingkungan yang ada. Kegelisahan mereka kemudian ditangkap oleh sekolah dan lembaga pendidikan lain dengan menjanjikan hasil akhir yang fantastis meski jika orang tua berpikir sebentar saja, mereka akan menemukan kejanggalan di janji-janji itu. 

Kegelisahan orang tua ditangkap oleh perilaku sekolah yang industrialis (mohon maaf : kapitalis) , perpaduan yang klop bukan? 

Perlu waktu panjang untuk memperbaiki ini. Dan sekolah perlu ikut bertanggung jawab untuk memperbaiki ini karena jelas andil mereka ada di situ dalam membuat kerusakan. Sekolah perlu “tobat” memberikan janji-janji hasil akhir, mengubahnya dengan janji melayani dengan proses. Sekolah juga perlu intens membuat kurikulum parenting yang berkesinambungan agar mindset proses ini juga kembali pada para orang tua. 

Klojen – Malang, 14 April 2022

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *