Diskriminasi Minoritas

Sebelumnya, saya mohon maaf jika tulisan saya ini membuat Anda tidak nyaman. Tapi, saya hanya ingin semua merasakan bahwa diskriminasi itu tidak harus mayoritas ke minoritas, tapi bisa sebaliknya. Kita perlu memahami ini agar dari kita tidak merasa jadi korban sendirian. 

Saya ingin bercerita pengalaman saya ketika kuliah di Jurusan Kimia Universitas Indonesia. Ada dua hal yang saya merasakan sekali diskriminasi itu. 

Suatu hari saya menjenguk teman terpintar di Angkatan saya di RS Pondok Indah. Kalo tak salah, teman ini menderita DBD. Di sela-sela waktu menjenguk itu,  teman itu bertanya ke saya, 

“Babe, loe ambil matkul apa? “, tanya teman itu

Lalu saya sebutkan satu mata kuliahnya. Lalu, dia menjawab lagi, 

” loe ati-ati beh, gua aja dapat B” 

Teman ini bukan mau nyombong, tapi dia mengingatkan bahwa dia yang pintar saja cuma dapat B, apalagi saya yang kuliah bareng adik tingkat. 

“Loe tahu kan si A, B dan C. Dia bisa dapat A, tapi gua dapat B” 

Teman ini menceritakan beberapa teman lain yang bisa dapat A bukan karena kepintarannya, tapi karena memiliki kesamaan dengan sang dosen. Bukan sikap yang fair bukan? Dan itu terjadi di kampus terbaik di Indonesia kata orang. 

Kejadian kedua adalah kagetnya teman-teman saya karena saya bisa mendapatkan fc catatan mata kuliah dari adik kelas yang terkenal diskriminatif dalam memberikan ilmu yang dia miliki termasuk catatan. 

“loe kok bisa dapat catatan itu?” Tanya beberapa teman. 

“Bisa, tapi gak langsung dapat dari orangnya, tapi dari teman orang yang punya catatan itu, dan dia wanti+wanti jangan sampai ketahuan”

Ya, saya bisa mendapatkan catatan itu dari mahasiswi lain teman dari mahasiswi yang memiliki catatan. Tidak secara langsung. Kalo kata teman-teman, saya menggunakan ajian tebar pesona untuk mendapatkan itu. Ha ha ha. 

Diskriminasi sebenarnya adalah perilaku tak patut dari manusia. Perilaku ini sebenarnya perilaku karena merasa lebih superior dibandingkan kelompok lain atau bisa jadi kecemasan atau merasa terancam dikalahkan oleh kelompok lain. 

Diskriminasi ini bisa dirasakan juga oleh mayoritas. Tidak merasa paling menderita adalah sikap terbaik agar kita bisa sama-sama sikap diskriminatif ini. 

Central Borneo, 30 April 2022

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *