Jawaban pertanyaan ini terjawab ketika webinar siang tadi. Moderator mengatakan bahwa sekarang bukan waktunya untuk berpikir yang template. Ya! Itu jawabannya. Berpikir template!
Selama ini, orang-orang di industri yang berpikir inovatif selalu mendahulukan hal baru, baru kemudian berpikir bagaimana “mengakali” aturan. Jadi, ide liarnya dulu baru kemudian berpikir bagaimana adaptasi dengan aturan yang ada. Jika sebaliknya, maka tak akan ada gojek, karena dalam aturan kemenhub tak ada angkutan model seperti gojek.
Nah, hal sebaliknya terjadi di lembaga pendidikan. Sebagian besar berpikir, ini aturannya, gak boleh dilanggar, jadi kita gak bisa berinovasi. Bahkan sekedar untuk membuat sebuah papan tulis tidak di depan kelas, atau sekedar meniadakan ruang kepala sekolah, atau mengubah format RPP menjadi sebuah sesuatu yang tak mungkin dilakukan.
Berpikir template. Betul kata moderator siang tadi. Selama insan pendidikan masih berpikir template, maka akan sangat sulit untuk melakukan inovasi, meski sekedar membuat RPP yang berbeda dengan keinginan pengawas, apalagi mengubah jam pelajaran dan kurikulum.
Tentu ini mengkhawatirkan, karena model pendidikan yang kita jalankan ini sudah 200 tahun lebih tidak mengalami perubahan, sejak awal revolusi Industri. Sedangkan perubahan di luar kelas begitu cepat terjadi. Jika perubahan di dalam lebih lambat dibandingkan apa yang terjadi di luar, maka menjadi wajar ketika sudah mulai banyak anak-anak muda yang merasa kelas menjadi penjara bagi mereka. Kelas bukan sesuatu yang menyenangkan.
Lalu, bagaimana dengan sekolah Anda?
Sawangan Depok, 20 Agustus 2022