“Anak saya dilarang baca novel ketika musim ujian, agar bisa fokus belajar dari buku paketnya”
Cerita ini saya dapat sekitar 10 tahun lalu, dan anak yang dilarang itu sekarang sudah kuliah di salah satu fakultas kedokteran di Indonesia.
10 tahun lalu, mendengar ini saja saya sudah terusik, karena ternyata masih sempitnya paradigma guru tentang belajar, buku, novel dan literasi. Bagi sebagian orang, bacaan ringan seperti novel adalah stress realeas yang baik. Toh juga, belajar itu tak harus dengan buku paket, dan ujian tak harus pula dengan soal-soal sumatif.
Itu 10 tahun lalu. Tapi ternyata, di tahun 2022 ini juga saya mendapat WA dari orang tua murid di pulau Jawa, “Anak saya dilarang baca komik oleh gurunya, karena sudah kelas 4, diminta fokus belajar dengan lebih banyak membaca buku pelajaran ”
Ibu ini sengaja membawakan komik karena di sekolah anaknya tak ada perpustakaan.
Hah?!?! Tak ada perpustakaan sekolah? Di tahun 2022 ? Hah? Dilarang baca komik? Tahun 2022 ?
Ya, begitulah adanya. Sekolah masih terjerat pada hal-hal artificial, bukan esensi.
Esensi belajar untuk anak usia 3-15 tahun adalah bertambahnya pengetahuan, skil dan karakternya. Dan itu bisa didapatkan dari banyak hal. Esensi dari belajar adalah terpenuhinya rasa ingin tahu yang menjadi bagian penting dari fitrah anak. Belajar bisa dari mana saja, dengan apa saja, kapan saja dan dengan siapa saja. Belajar itu tak tersekat buku-buku pelajaran. Tapi lebih luas dari itu.
Sungai Koran TN Sebangau, 24 September 2022