User Test & Design Thinking

Sejak mengenal design thinking, saya sering menghubungkan sebuah produk dengan design thinking. Proses di frame work ini logis banget. Sesuai banget dengan kebutuhan dan psikologis manusia yang terlibat di dalamnya. 

Seperti lampu di ruangan kamar rawat inap ini. Pengguna lampu ini adalah petugas kesehatan, pasien, keluarga pasien dan mungkin juga pengunjung dan petugas kebersihan. 

Saya rasa, lampu ini sudah cukup tepat untuk petugas kesehatan. Karena akan memudahkan mereka untuk memeriksa pasien, tepat berada di atas badan pasien.   Tapi mungkin bagi pengguna yang lain, lampu ini menjadi kurang tepat. Ini beberapa catatan saya :

 Bagi pasien, lampu ini cukup mengganggu. Tepat di atas mata pasien. Cukup silau dan membuat pasien sulit tidur. Mungkin bisa jadi ada pembenaran, “Kan ada saklarnya, jadi bisa dimatikan” Nah, ini catatan lagi. Posisi saklar tidak dalam jangkauan pasien. Saklar adanya 1,5 meter di balik tirai yang ada, tentu ini akan menyulitkan pasien jika pasien itu tidak ada yang menunggu. Karena tidak mungkin pasien dengan infus dan alat-alat bangun dan berjalan ke arah saklar yang jaraknya 3-4 meter dari ranjang pasien. 

Desainer ruangan ini mungkin sudah melakukan emphatize kepada nakes, tapi mungkin lupa bertanya kepada calon pasien, apakah saklar lampu itu memudahkan atau menyulitkan. 

Tapi kan biasanya ada yang menunggu ya? Nah, bayangkan beberapa jam sekali nakes datang dan menyalakan lampu, tapi mereka tidak mematikan lampu, tentu akan merepotkan penunggu untuk menuju lampu. Juga, tak selalu pasien ditunggu oleh keluarganya, atau bisa jadi keluarga sedang mengurus obat atau lainnya. 

Jekan Raya, 2 Oktober 2022

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *