Sejak tahun 2005 ketika mendapatkan tantangan mengelola sekolah di Sigli Nanggroe Aceh Darussalam, saya sudah menerapkan sekolah tanpa buku paket. 2 konsultan hebat sekolah yakni bu Nina dan bu Ery seakan “mengharamkan” Ketergantungan pada buku paket ini. Anak harusnya belajar dari banyak referensi dan alam sekitar, bukan dari buku paket.
Banyak hal, mengapa buku paket ini tidak diperlukan di sekolah-sekolah, terutama sekolah-sekolah yang akses mendapatkan sumber daya cukup mudah.
Pertama. Buku paket adalah tafsir penulis buku paket pada kurikulum yang ada. Apa yang ada di buku paket bukanlah kurikulum itu sendiri, karena apa yang ada di kurikulum bisa jadi berbeda dari masing sudut pandang orang. Guru sepatutnya memahami dokumen kurikulum dengan baik, bukan buku paket ini.
Kedua. Informasi di buku paket terbatas sekali. Dari bertahun-tahun mengamati buku paket, hampir tidak ada pembaruan di dalamnya, meski adanya perubahan kurikulum. Lihat saja soal yang dibuat. Dari tahun ke tahu modelnya tak berubah. Informasi di buku paket sendiri juga sangat terbatas.
Ketiga. Akses mendapatkan informasi di tahun 2022 ini sudah sangat terbuka. Ribuan bahkan jutaan informasi bisa anak dapatkan di internet dan lingkungan sekitar. Tak perlu anak-anak Maluku mempelajari tentang laut dari buku paket yang sangat terbatas. anak bisa langsung ke laut (karena Maluku punya potensi luar biasa lautnya). Pun juga, kadang ada isi buku paket yang tak dibutuhkan anak-anak Maluku. Begitu juga daerah lain.
Keempat. 1 paket buku paket per tahun bisa menghabiskan dana sekitar 700 ribu hingga 1 juta rupiah. Bayangkan jika ada 200 siswa di dalam sekolah itu, maka ada sekitar 200 juta yang dibelanjakan untuk membeli buku paket ini. Dan seperti kita tahu, tahun depan buku ini sudah menjadi barang loakan yang harganya dihitung dalam satuan kilogram. Bayangkan jika uang ini dibuat untuk memperbaiki fasilitas perpustakaan, maka akan ada perpustakaan baru dan buku-buku baru yang melimpah. Sekarang, coba lihat kondisi perpustakaan sekolah, bisa dibilang lebih dari 90% tidak dikelola dengan baik.
Adiksi atau ketergantungan pada buku paket ini perlu segera dihentikan agar pendidikan Indonesia lebih baik dan mengerjakan hal-hal yang esensi, dalam hal ini memperbaiki kondisi perpustakaan sekolah dan fasilitas sekolah agar anak mudah mendapatkan informasi. Membiarkan gurita bisnis buku paket ini hanya akan membuat pendidikan Indonesia menjadi makanan kapitalis-kapitalis yang menjadi kanker di tubuh pendidikan Indonesia.
Menteng, 4 Oktober 2022