Sebulan lalu, berita tentang terbunuhnya seorang santri oleh seniornya karena dihukum. Bulan ini berita tentang seorang santri yang dibakar oleh seniornya dengan pertalite karena dianggap melawan. Jika kita buka-buka berita, ada kekerasan siswa SMP yang mengeroyok sebuah SD. Belum lagi kekerasan seksual yang terjadi juga di sekolah dan boarding school mewah.
Kisah-kisah ini bak gunung es, karena bisa jadi (atau bahkan pasti) ada kekerasan lain yang jauh lebih banyak. Guru pada murid, murid dengan murid, murid pada guru, orang tua pada guru dan lainnya. Ini indikasi adanya kesalahan dalam pendidikan kita.
Momentum kejadian ini sebenarnya bisa dijadikan momentum untuk memperbaiki sistem pendidikan. Tapi, sepertinya belum ada yang serius untuk memperbaiki itu.
Seorang psikolog pernah mengatakan bahwa anak-anak di sekolah tidak dipenuhi kebutuhan dasar psikologisnya. Ini salah satu yang menjadi pemicu kekerasan terjadi. Kekerasan adalah kompensasinya.
Pengasuh asrama, ustadz, guru di sekolah, dan juga pengelola sekolah perlu paham dasar-dasar pemenuhan kebutuhan dasar ini. Karena, sekolah bukanlah bagaimana kedisiplinan ditegakkan dengan hukuman dan ancaman, tapi bagaimana kedisiplinan itu karena adanya pemenuhan kebutuhan dasarnya.
Wallahu alam bisshowab. Semoga Allah hindarkan kita dari bencana ini.
Jekan Raya, 7 Oktober 2022