Kisah Tahu Goreng di Dalam Kotak Hijau

(kisah empati seorang anak berusia 8 tahun)

Hari ini, hujan begitu lebat sejak sebelum shubuh di kota Palangka Raya. Berhenti sebentar, dan lalu kembali deras pada pukul 5:30. Hingga pukul 6:30 waktu berangkat ke sekolah, hujan belum juga reda, bahkan bertambah deras.

“Ayah berangkat dulu dengan motor, kalian naik gocar aja” kata saya ke Qawwam, anak kedua yang sekarang berusia 14 tahun.

“Wam, nitip tas laptop ayah ya” lanjut saya.

“Ok ” jawab Qawwam.

Sekitar pukul 7:45, hujan belum reda juga, dan Qawwam baru mendapatkan gocar dari rumah kami di Menteng, saat itu, saya sudah di @Sekolah Sahabat Alam. 

“Ayah, aku lupa bawa tas ayah” begitu kata Qawwam yang sudah berada di dalam GoCar melalui panggilan WhatsApp.

Alamat kelaparan deh, human saya dalam hati setelah mendengar pengakuan Qawwam. Ya, karena saya baru makan pukul 8, jadi makanan yang disiapkan di rumah saya jadikan bekal untuk dimakan di sekolah. Tapi, takdirnya hari ini, Qawwam lupa membawa tas saya yang di dalamnya ada bekal berisi tahu goreng.

Sekitar pukul 8:15, masuklah Gaza ke dalam ruang kantor bawah Sekolah Sahabat Alam. Baru turun dari GoCar rupanya.

“Yah, ini bekal ayah ambil aja” Kata Gaza sambil memberikan bekal itu kepada saya.

“Loh, ini kan punya Gaza ? ” Jawabku

“Iya, tapi kan ayah belum makan, tas ayah kan ketinggalan, jadi ini bekalku untuk ayah aja” jawab Gaza lagi

Beberapa detik saya termenung hingga Gaza keluar dari ruang kantor Sahabat Alam. Belum sempat berterima kasih dan memeluknya, tapi dia sudah hilang dari balik pintu kantor.

Termenung karena melihat begitu baik empati yang ada pada Gaza pagi itu. Tak mudah bersikap seperti itu untuk anak seusia Gaza (8 tahun).

Menteng, 14 November 2022

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *