Pagi tadi, saya mengobrol dengan salah satu teman di salah satu hotel di Bangil. Diskusi mengalir ke sana kemari dan salah satunya adalah membahas tentang obsesi orang tua. Dia bercerita tentang anak temannya yang sudah “dirancang” oleh orang tuanya, mau sekolah di mana, mau kuliah apa dan profesi apa yang ditekuni nanti oleh anaknya. Tentu, semua jalur hidup anaknya nanti akan “diseting” sesuai dengan profesi orang tuanya sekarang. Meski bisa jadi, sang anak merasa bukan itu pilihan hidupnya.
Hal semacam ini bukan 1-2 saya temukan. Saya merasa bahwa orang tua – orang tua seperti ini, tidak jauh mainnya, hanya di sekitar circlenya saja. Ini bahaya, karena akan berada pada satu ekstrim ke ekstrim lainnya.
Bagi orang tua yang merasa bahwa profesinya itu yang membuat mereka sekarang hidup dengan sangat nyaman, maka akan terjebak dengan masuk terlalu jauh dengan desain hidup anaknya. Maka tak heran, ketika ada orang tua yang berprofesi sebagai dokter, pengusaha, guru, ASN dll yang ikut campur dalam design hidup anaknya. Karena mereka merasa, bahwa orang bisa sukses ya dengan cara yang ditempuh orang tuanya.
Begitu juga sebaliknya, ketika orang tua merasa profesinya sekarang membuat hidupnya sengsara, maka ketika pergaulan hanya di circle itu, orang tua akan merasa bahwa profesi yang digelutinya sekarang hanyalah keburukan. “Ayah gak ingin kamu jadi petani, karena petani itu susah” misalnya, padahal banyak juga petani sukses dengan melakukan inovasi.
Meluaskan circle kita sebagai orang tua, membuat circle kita lebih inklusif adalah cara kita agar anak-anak kita punya banyak pilihan dalam hidupnya.
Bangil Kota Tercinta, 23 April 2023
#BabahAca
#HumanCenteredEducation
#HumanCenteredLeadership