Tulisan ini adalah refleksi dari beberapa kejadian dalam hidup saya. Dan seakan, beberapa kejadian ini ibarat potongan puzzle yang saling melengkapi.
Kejadian-kejadian ini terkait dengan aqidah dan cinta pada Tuhan.
Sebulan lalu, saya bertemu seorang atlet remaja yang mundur dari TC nya karena adanya hambatan dalam melaksanakan shalatnya. “Allah kan yang menjadikan kita seperti ini pak, Allah kan yang banyak membantu kita” ucap remaja putri itu ketika saya memuji keputusannya yang tidak mudah bagi seorang remaja yang punya obsesi dalam hidupnya.
“Anak yang mampu mencintai Tuhannya adalah anak yang punya deposit cinta. Dan deposit cinta ini dia dapat dari orang tua dan lingkungannya” kata-kata ini keluar dari seorang dokter jiwa yang telah menjadi dokter pribadi saya sejak 18 tahun lalu.
Kalimat ini keluar ketika kami berdiskusi tentang lingkungan yang baik di rumah dan di sekolah. Bahwa lingkungan yang penuh cinta , akan membuat anak memiliki deposit cinta. Dan deposit inilah yang akan digunakan untuk mencintai makhluk atau bahkan Tuhannya. Kecintaan pada Tuhan ini tak akan lahir hanya dari papan tulis dan petuah, tapi dari perasaan yang betul – betul ikhlas dari orang tua di rumah dan guru di sekolah.
Mungkin sekitar sepuluh tahun yang lalu, alm Bu Ery pernah mengatakan bahwa aqidah ini atau iman harusnya diajarkan secara nyata, di alam terbuka. Pun apa yang pernah disampaikan oleh seorang ustadz dari Jatinangor. Bahwa iman itu diajaran di alam nyata, bukan sekedar tulisan dan buku-buku.
Puzzle-puzzle ini tersusun malam ini dalam diri saya. Yang masih sedang mencari makna di usia menjelang setengah abad ini. Puzzle-puzzel ini semakin meyakinkan bahwa pendidikan baik di rumah maupun di sekolah perlu penuh rasa aman dan cinta, agar anak-anak akan lebih mudah mencintai Tuhannya.
Jekan Raya, 24 September 2023
#BabahAcah
#HumanCenteredLeadership
#HumanCenteredEducation