Obsesi Ortu, atau Cita-cita Anak ?

Sekarang sedang musim label sekolah borongan. Label sekolah yang ingin menjadikan anak menjadi bisa segalanya. Ya jadi ulama, ya jadi hafidz, ya jadi ilmuwan, ya jadi pengusaha. Tulisan ini hasil diskusi saya dengan seorang maestro pendidikan yang saya hormati. 

“TIGA tahun, opo Yo cukup waktune ?” Begitu yang muncul dari percakapan kami.

“Mission imposible” lanjutnya.

Tapi, saya jawab “mungkin aja mbak, dengan beberapa syarat” 

Apa syaratnya ? 

Pertama. Anak ini betul-betul cerdas, kuat fisiknya, dan tahan banting jiwanya.   Kalo salah satu ini gak dipenuhi, maka gak akan mungkin. Karena pendidikan dengan label seperti ini pastilah pendidikan dengan tingkat tekanan yang cukup tinggi.

Kedua. Mentor-mentor yang ada di dalamnya adalah mentor-mentor yang tangguh banget. Sama seperti anak-anak tadi. Maka mentor-mentor yang adalah adalah orang-orang nomer satu dalam kemampuan otaknya, kuat fisiknya dan juga kuat mentalnya ketika menghadapi tekanan tinggi.

Ketiga. Lingkungan yang benar-benar suportif. Lingkungan ini bukan hanya di dalam sekolah, tapi juga di circle terdekatnya. Suportif ini bukan sekedar mensuport, tapi juga punya kualitas yang sama dengan point’ satu dan dua. Mengapa ? Ya tanpa lingkungan yang seperti ini, maka “gangguan” akan banyak menghambat anak-anak untuk berkembang.

Keempat. Semua yang terlibat di dalamnya adalah orang orang-orang yang tidak punya hambatan berar dalam dirinya, yang matang karena ketidakmatangan hanya akan memberikan hambatan pada prestasinya ke depan.

Pertanyaannya, apakah ada syarat-syarat itu ? Ada mungkin, tapi sepanjang kehidupan ini, saya belum pernah melihat kondisi ini. Bahkan ketika zaman Rasul dahulu. Bahwa faktanya, tidak semua jadi seorang Abu Hurairah yang ilmuwan, tidak semua jadi seperti Usman yang pedagang sukses, tidak semuanya seperti Khalid yang jago berperang, tidak semuanya pula seperti Abu Bakar yang sangat bijaksana. Rasul adalah guru dan orang tua terbaik. Yang tahu apa kemampuan masing-masing murid dan anaknya, yang memberikan kesempatan satu persatu untuk berkembang sesuai dengan potensinya.

Jekan Raya, 25 September 2023

#BabahAca

#HumanCenteredL

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *