Mengapa Kekerasan di Sekolah Berasrama Berulang ?

Tahun ini, beberapa kali kita mendengar berita terkait kekerasan yang terjadi di sekolah berasrama. Ada pembakaran sekolah berasrama oleh santrinya, ada kekerasan seksual, ada kekerasan fisik yang membuat anak cacat hingga kematian. 

Tahun lalu, berita juga kurang lebih sama juga terjadi di sekolah berasrama.

Kekerasan ini kontradiktif dengan harapan orang tua yang ingin menyelamatkan yg anak-anaknya dari kondisi lingkungan di luar sekolah yang dianggap lebih buruk.

Sebagai seorang konsultan pendidikan, yang tiap bulan keliling ke beberapa sekolah-sekolah di daerah dan bertemu dengan komunitas orang tua, saya mendapatkan banyak fakta terkait mengapa kejadian ini terulang di sekolah-sekolah berasrama. 

1.  Kondisi Anak

Beberapa kondisi santri ternyata tidak siap untuk masuk sekolah berasrama. Tidak siap ini bisa jadi beberapa hal. Salah satunya kondisi psikologis yang berbeda, kondisi kematangan santri karena pola asuh dan kondisi lainnya.

Tapi sayangnya, sekolah tidak mempunya maping yang baik atau bahkan tidak memiliki sama sekali tentang kondisi ini.

2. Kompetensi Pengasuh Asrama

Beberapa sekolah yang pernah saya datangi mengakui bahwa mereka tidak memliki standar pembinaan untuk pengelola asrama. Pengasuh dan pengelola asrama hanya mengasuh dan mengelola berdasarkan pengalaman bagaimana mereka sekolah dahulu. 

Padahal, peran pengasuh ini sangatlah penting karena pengasuh adalah pengganti dari orang tua di rumah. Anak yang kehilangan pengasuhan orang tuanya, harusnya peran itu digantikan oleh pengasuh di asrama. 

3. Tekanan Akademis dan Target Sekolah

Data dari Kemenkes, salah satu penyebab stres remaja adalah tekanan akademis dan tugas sekolah selain kondisi gagalnya pertemanan dan pola asuh orang tua. 

Di beberapa sekolah, akademis dan target-target terukur adalah hal yang sering menjadi ukuran keberhasilan. 

Piala, prestasi akademis, nilai tinggi adalah jadi ukurannya. 

4. Sistem Sekolah 

Kematian krn bully, mustahil tanpa didahului oleh budaya bully. Budaya bully, mustahil tanpa adanya pembiaran terhadap bully dan pembiaran terjadi karena di beberapa sekolah membully tidak dianggap sebagai masalah tapi bahkan sebagai pendidikan adab.

Pengelola masih melihat bahwa menghukum adalah cara terbaik untuk menegakkan kedisiplinan siswa. Padahal masih banyak cara untuk membuat anak disiplin tanpa menekan dengan hukuman.

Hukuman, apalagi jika dilakukan dengan keras dan dilandasi dengan emosi yang meletup, hanya akan menyisakan luka bagi seorang anak. Dan luka ini yang kemudian membuat anak melakukan bully berikutnya pada temannya yang lebih lemah. 

Seorang anak pelaku bully adalah seorang korban dari perilaku keras sebelumnya. 

5. Jumlah Santri yang Besar, Tidak Sesuai dengan Rasio Pengasuh

Di beberapa sekolah berasrama yang saya datangi, memiliki ratusan siswa bahkan ribuan tanpa memiliki sistem pengasuhan yang ajeg. Baik dari mekanisme bagaimana mereka di-update keilmuan pengasuhannya hingga rasio pengasuh dan santri yang cukup rendah. Pengasuh menjadi kelelahan dan burn out yang tentu akan mempengaruhi kesehatan mentalnya untuk mengelola santri. 

6. Tuntutan Kesempurnaan

Santri dituntut sesempurna mungkin. Tidak boleh melakukan kesalahan sama sekali. Bahkan di beberapa sekolah, terlambat shalat akan mendapatkan hukuman.

Fitrahnya, seorang anak remaja adalah anak yang ingin mencoba sesuatu. Mereka butuh mencoba melakukan sebuah kesalahan. Bukan berarti membiarkan, tapi memberikan kesempatan mereka untuk dianggap normal . Normal sebagai manusia itu ya kadang memang melakukan kesalahan. Kita dilahirkan bukan untuk menjadi sempurna, tapi menjadi nyata Seperi diri kita.

Di akhir tulisan, saya memohon maaf jika tulisan saya dirasa menyinggung atau membuat tidak nyaman. Tapi ini adalah bagian dari diri saya untuk bersama-sama memperbaiki kondisi ini, bukan mempertahankannya dengan cara denial dengan fakta yang ada.

Harmoni Jakarta, 8 Desember 2023

#BabahAca

#MentalHealthatSchool

#HumanCenterdEducation

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *