“Pak, pendidikan fitrah yang kita bawa itu tidak perlu dibenturkan dengan akademis, akademis itu salah satu skil yang perlu dicapai” begitu kata Bu Ery Soekresno beberapa tahun lalu ketika beliau mencoaching saya terkait pendidikan berbasis fitrah yang beliau sudah lakukan bertahun-tahun sebelumnya.
Kekuatan dari pendidikan yang sesuai fitrah adalah pengakuan pada tahapan perkembangan anak dan kebutuhan dasar anak. Semua ada tahapannya. Akademis bukanlah satu-satunya capaian yang perlu dicapai oleh anak. Banyak hal yang perlu dimatangkan anak.
Emosinya perlu matang. Motoriknya perlu matang. Sensorinya (penginderaannya) pun perlu kematangan.
Pendidikan yang berbasis fitrah itu mengakui bahwa pendidikan itu holistik. Anak dilihat bukan hanya dilihat dari capaian-capaian akademis, capaian hafalannya saja. Holistik itu berarti juga di perilaku, sikap berpikir, skil komunikasi dan kemampuan lain yang perlu dimiliki manusia. Bahkan kemampuan untuk belanja adalah skil yang perlu dikembangkan pada seorang anak.
Pendidikan berbasis fitrah itu berarti juga memahami bahwa setiap potensi anak berbeda satu sama lain. TUHAN tidak menciptakan isi otak manusia sama. Ada anak dengan kemampuan di atas rata-rata, ada yang standar dan bahkan ada yang di bawah rata-rata. Karena kemampuan yang Allah berikan berbeda, maka target dan metode yang digunakan pun bisa jadi berbeda.
Pendidikan model seperti ini adalah pendidikan masa depan. Dunia sedang menuju ke arah itu. Meski bisa jadi dengan label yang berbeda. Kita, sebagai pengelola sekolah Islam, tentunya perlu jadi motor untuk gerakan ini, bukan menjadi follower.
Menteng, 27 Desember 2023
#BabahAca