Ada semacam sebuah pembenaran bahwa kelas di TK itu ramai dan penuh dengan anak-anak yang teriak-teriak. Gurupun dianggap benar ketika bicara dengan suara yang cukup lantang. Doa juga dilakukan dengan suara yang lantang. Otomatis, ruang kelas di TK seakan dipenuhi dengan suara siswa dan guru.
Awal membangun sekolah di Sigli Aceh, tahun 2005-2008, Bu Ery Soekresno yang menjadi konsultan sekolah di situ, mengatakan bahwa volume suara harusnya seperlunya, teriakan tidak diperlukan.
“Qi, dengar aja. Kalo kelas terdengar seperti suara lebah, maka anak-anak itu sedang bekerja dengan sedikit bicara”
“TUHAN gak tuli Qi, anak-anak gak perlu doa dengan siaran yang lantang”
Dua kalimat itu saya pegang hingga hari ini. Dan saya jadikan sebagai rujukan ketika menangani sebuah sekolah.
Volume siswa dan guru yang terlalu lantang dan dilakukan dengan teriak-teriak sebenarnya bukanlah hal yang sesuai dengan fitrah. Fitrah manusia mendengar dengan volume yang dibutuhkan dan lembut di gendang telinga.
Bagaimana suasana kelas di sekolah Anda?
Jekan Raya, 5 Oktober 2022