Saya cukup mengenal kata esensi dan aksesoris ini sejak tahun 2005 ketika mengenal Bu Ery dan Pak Irwan yang mendampingi SDU Iqro di Sigli – Aceh. Mereka berdua kuat sekali mengajarkan pada saya tentang pentingnya sekolah berfokus pada Esensi pendidikan , bukan aksesoris.
Contoh kecil yang sampai sekarang saya ingat adalah ketika Bu Ery memberi analogi ketika shalat tapi tidak memakai “pakaian shalat”. Yang penting adalah shalatnya, maka ketika sudah menutup aurat, cukup sudah. Jangan sibuk dengan aksesorisnya. Contoh lainnya adalah antara seragam dan semangat seorang anak yang ingin sekolah. Jangan sampai, gara-gara seragam, anak gak berangkat sekolah. Misal ketika seragamnya basah, kotor dan lain-lain. Semangat ke sekolah itu esensi, seragam itu aksesoris.
Pagi ini, saya diskusi dengan seorang senior pegiat pendidikan melalui aplikasi perpesanan. Panjang diskusi kami. Diskusi ini dilandasi pada kekhawatiran pada sekolah-sekolah yang label dan perilakunya jauh berbeda. Tidak konsisten dengan apa yang menjadi labelnya. Label hanya sekedar menjadi aksesoris, bukan menguatkan esensi pada isinya.
Konsisten pada Esensi itu menurut saya adalah penting dan urgent diterapkan di semua lembaga pendidikan. Esensi pendidikan itu tahapan perkembangan dan kebutuhan dasar. Prestasi akademis itu aksesoris. Kolaboratif itu esensi, kompetitif itu aksesoris. Menutup aurat itu esensinya, seragam itu aksesoris. Referensi literasi itu esensi, buku paket itu aksesoris.
Konsisten pada Esensi itu berat memang, karena market menginginkan aksesoris. Aksesoris lebih mudah dijual. Dan ini godaan bagi kita sebagai pegiat pendidikan. Godaan yang sebenarnya bisa dihindarkan jika kita punya “iman” yang kuat pada “Mazhab” pendidikan yang kita yakini.
Dorys Sylvanus, 3 Oktober 2023
#BabahAca
#HumanCenteredLeadership
#HumanCenteredEducation
#MentalHealthatSchool