Seorang wartawan bertanya kepada saya, “Qi, di Sekolah Sahabat Alam membolehkan anak lelaki berambut panjang dan mengecat rambutnya, apa alasannya ?” Kaget juga mendapat chat seperti ini di siang hari yang panas di Palangka Raya. Perlu menepi dan berteduh untuk menjawab pertanyaan ini. Pertanyaan dari wartawan dan alumni perguruan tinggi Islam di Afrika ini tentu tidak sekedar bertanya.
“Karena berambut panjang dan mengecat rambut gak dilarang, gak ada syariat yang melarang, mubah bukan ? ” tanyaku balik di atas jok Beat 2010.
“Iya sih, tapi penasaran, bagaimana dengan image dan omongan orang, bagaimana tuh ?” tanyanya lagi. Khas wartawan ya, tidak puas dengan satu pertanyaan. Jawaban apapun pasti akan ada pertanyaan lanjutan, mirip Rosi atau Najwa di televisi.
‘Kami sudah mencapai level hakikat, yang lain baru makrifat” jawabku sekenanya.
“Jika orang tidak suka, maka apapun akan dijadikan image negatif, tapi ketika orang penasaran maka akan ada pertanyaan untuk mengklarifikasi hal itu bukan menghakimi” jawabku lebih serius.
Bisa jadi, kami dianggap liberal dengan kebijakan ini, padahal menurut kami ini malah lebih “radikal”. “radikal”karena kami lebih melihat sesuatu dari esensi, bukan arifisial. Masalah esensi, selama syariat tidak melarangnya, maka tak ada hak bagi kami untuk melarangnya. Kalau masalah image kan ini masalah budaya, masalah perasaan yang bisa jadi akan berubah dengan berjalannya waktu.
Ada juga yang mengaitkan masalah rambut panjang dan cat rambut ini dengan meniru-niru suatu kaum, tapi sebenarnya inipun bisa dijawab dengan sederhana. Jika memang anak ini mengikuti kaum lain dengan gaya rambutnya, maka pertanyaannya adalah mengapa si anak masih mengidolakan kaum lain, dan tidak mengidolakan gurunya dalam berperilaku ? Jika seorang berpikir seperti ini, maka yang ada seorang guru akan mencari cara sedemikian rupa agar seorang anak akan mengidolakan gurunya, bukan orang lain atau kaum lain. Ini adalah kesempatan emas bagi guru untuk memasukkan nilai-nilai. Jika memang seperti itu. Tapi, bagi kami, ini sesuatu yang mubah saja.
Ada beberapa siswa-siswa Sekolah Sahabat Alam berambut panjang dan mengecat rambutnya. Tiap tahun pasti ada yang seperti ini. Dan masing-masing memiliki alasan. Yang kadang, alasannya logis dan memiliki landasan syariat yang jelas, kadang pula hanya menjawab, “Pengen aja”. Esensi pendidikan itu seperti apa yang dijalankan para nabi. Pelan, pelan, tidak tergesa-gesa dan tidak menjadikan “aturan” atau “hukuman” sebagai cara untuk menanamkan nilai-nilai. Menurut KH Abdul Shomad, kasih sayang dahulu baru kemudian aturan. Bukan kebalikannya.
Loca Café, 29 September 2022
#BabahAca
#HumanCenteredLeadership
#HumanCenteredEducation