Stop Menghafal Qur’an 

Stop membuat program menghafal Qur’an jika cara dan metodenya masih menggunakan paksaan dan tekanan. 

Kita sering mendengar atau bahkan mengalami sendiri tidak suka dengan matematika karena gurunya galak dan  pelajaran yang diberikan susah. Pendekatan mengajar matematika yang hanya kejar target kemudian membuat anak menjadi tidak bahagia dan menimbulkan trauma pada matematika itu sendiri.

Kembali ke Qur’an. Ranah ketika menghafal Qur’an ini ada dua. Ruh (jiwa) dan aqliyah (otaknya). Ruh itu merasakan keindahan, kenyamanan dan akan menimbulkan rasa cinta, sedangkan menghafalnya sendiri adalah kerja mekanis otak. Ketika hafalan masuk ke otak, tidak otomatis Qur’an itu masuk ke dalam jiwa anak. Hafalan masuk ke dalam otak itu bisa dalam waktu yang cepat dan sangat cepat, 6 bulan bahkan. Tapi untuk masuk ke dalam jiwa yang menimbulkan rasa cinta akan memerlukan waktu yang lebih lama. 

Saya masih ingat bagaimana seorang anak SMA yang hafidz Qur’an sejak SMP, mengatakan, ‘Yang pengen gue hafal itu bokap, bukan gue, kalo hafalan mau ilang, ya ilang aja” kalimat ini keluar ketika anak tersebut ditegur temannya karena seharian main PS bahkan untuk shalat saja masih perlu diingatkan.

Di belahan Timur Indonesia, seorang bapak mengatakan 3 anaknya hafidz Qur’an, tapi ketika sudah lulus pesantren dan sekarang usianya 20an, ketiga anaknya itu tidak mencerminkan seorang hafidz. Ketiganya sulit untuk shalat dan menjaga hafalannya.

Di sisi yang lain, saya juga mengenal seorang anak yang cukup cerdas dan sangat cepat menghafal. Dengan pendekatan orang tua yang baik, anak ini punya misi yang jelas dalam hidupnya. 

Qur’an itu Kalamullah, ketika orang dewasa mengenalkan Qur’an dengan keras, maka persepsi itu yang akan dibangun oleh anak pada Tuhannya. Begitu juga sebaliknya, jika orang tua mengenalkan Qur’an dengan kasih sayang, maka itu pula yang akan terbangun pada anak tentang Tuhannya. 

Seorang ustadz pernah memberi nasehat pada saya, Amal kebaikan itu dimulai dari niat. Niat itu dibangun dengan pemahaman. Maka, baiknya bangun dulu pondasi pemahaman pada seorang anak mengapa dia perlu menghafal, agar anak punya niat yang ikhlas dalam jiwanya untuk menghafal. Ikhlas itu ketika tidak ada paksaan dari siapapun, karena memang manusia itu pada dasarnya adalah mahkluk yang merdeka. Dia hanya menghamba pada Tuhannya.

Alhamrhumah Bu Ery Soekresno pernah mengatakan pada saya, “Qi, target kita itu bukan anak pintar, tapi anak mencintai belajar. Kalau target pintar, kamu bisa aja drilling anak, tapi kalo cinta maka kamu akan butuh waktu yang akan lebih panjang”

Loka Hotel, 24 Mei 2023

#BabahAca

#HumanCenteredEducation

#HumqnCenteredLeadership

#MentalHealthAtSchool

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *