Sedang ramai berita tentang komplainnya ratusan orang tua murid di lingkungan sekolah di Surabaya terkait rencana tari Remo massal di Surabaya. Ada keinginan menjadikan momen ini untuk memasukkan di rekor Muri.
Komplainnya wali murid ini terkait mendadaknya pemberitahuan dan aksesoris yang digunakan yang dianggap memberatkan, terutama dari biaya dan hanya digunakan sekali saja. Meski akhirnya diralat oleh Dinas Pendidikan, tapi bola sudah menggelinding besar menjadi isu yang kontraproduktif.
Remo ini adalah tari tradisional dari Jawa Timur. Wajar jika pemerintah Surabaya ingin melestarikan budaya ini. Tapi, lagi-lagi, niat baik tidak cukup. Tapi perencanaan dan komunikasi adalah hal penting juga.
Melestarikan budaya tentu tak cukup dengan gebyar satu kali dengan ribuan penari, lalu menguap begitu saja. Jika memang ingin melestarikan budaya ini, sediakan fasilitasnya terlebih dahulu. Sediakan guru tari yang cukup dan berikan kesejahteraannya. Hidupkan sanggar-sanggar tari Remo di kecamatan atau kelurahan.
Masalah budaya ini masalah jangka panjang. Bukan sak deg sak nyeng kata orang Bangil. Impulsif bahasa psikologisnya. Karena jangka panjang, maka perencanaan dan persiapan butuh kematangan, bukan sekedar gebyar saja. Jangan sampai, kesan pertama saja sudah membuat antipati dan trauma bagi masyarakat. Alih-alih melestarikan, malah membuat antipati.
Tiga hal yang membuat pendidikan itu dinikmati, yakni : jika dibutuhkan , ada manfaatnya dan mampu dijalankan. Jika salah satu ini tidak terfasilitasi, maka pendidikan ini akan menjadi sesuatu yang terasa dipaksakan. Dalam kasus tari Remo massal ini, mana yang tidak dijalankan oleh Dinas Pendidikan Kota Surabaya ?
Jekan Raya, 15 Desember 2022