Suksesnya seorang anak bukan diukur dari apakah mereka punya pendidikan tinggi, rumah dan mobil mewah, dan berapa banyak saldo di ATM nya.
Tapi, salah satu kesuksesan adalah bagaimana mereka memiliki empati yang baik. Salah satunya adalah bagaimana memperlakukan orang tuanya di saat orang tuanya lemah.
3 anak muda ini, Zahfan bin Amanto (keponakan), Qawwam dan Qassam (anak kedua dan pertama Rizqi Tajuddin) tahu bagaimana mengambil sikap ketika mendengar saya perlu MRS.
Zahfan menawarkan diri untuk menjaga saya di hotel 1 hari sebelum saya masuk RS. Dan akhirnya harus izin di tempat di belajar.
Qawwam (15), dengan inisiatifnya izin ke sekolahnya dan menemani saya sejak di hotel, dan membantu banyak hal ketika saya di RS. Mengantarkan beberapa barang yang saya butuhkan, memasangkan kaos kaki ketika saya kedinginan.
Qassam (17) , jam 4 pagi dari Bandung ke Jakarta dengan travel terpagi. Dan di hari saya masuk RS, dialah yang urus semua administrasi RS, menemui petugas medis dan paramedis sebelum istri saya datang ke Jakarta hari Rabu.
“Kita beruntung punya anak laki-laki yang bisa seperti ini” kata saya di sambungan telepon ke istri sebelum dia sampai di Jakarta. Bagi sebagian orang, anak lelaki indentik dengan tidak bisa merawat orang tua ketika sakit. Tapi kami, Alhamdulillah, bahkan seorang Gaza yang usia 9 tahun pun mampu merawat ketika saya terkena serangan ringan ketika di Pangkalan Bun 1 pekan sebelum masuk RS.
Mendidik anak itu tidak sekedar mereka pintar dan punya uang banyak, tapi mengajarkan empati jauh lebih penting bagi perkembangan hidup mereka. Karena empati itu bagian dari pembentuk akhlaq seseorang. Dan akhlaq/adab adalah kunci terhormat atau tidaknya seseorang, bukan hanya di mata manusia lain tapi juga di mata Tuhan-Nya.
Pusat Jantung Harapan Kita Jakarta, 27 Oktober 2023
#BabahAca