Beberapa pekan ini ada perdebatan tentang masjid ramah anak karena dipicu oleh sebuah poster yang seakan-akan memberi pembelaan bahwa lebih baik masjid ramai dengan anak-anak daripada anak-anak takut ke masjid karena dimarahi atau ditegur oleh takmir. Di satu sisi, ada jamaah yang merasa terganggu dengan ramainya anak-anak.
Saya ingin mendudukkan dua hal ini yang seharusnya tidak perlu dipertentangkan. Tapi masing-masing berada pada porsinya.
Masjid yang ramah anak itu sebuah kewajiban. Karena anak adalah aset dakwah masa depan. Takmir dan sistem masjid yang memberikan fasilitas pada anak adalah sebuah kebutuhan. Jangan sampai anak merasa lebih nyaman berada pada lingkungan yang buruk dibandingkan masjid. Dan alhamdulillah, beberapa tahun terakhir ini banyak masjid yang mulai sadar dan memberi karpet merah pada anak-anak.
Nah, di sisi yang lain, ini yang kita lupa. Anak ramah masjid. Anak yang ramah masjid adalah anak yang bisa dikondisikan oleh orang tuanya untuk bisa tertib dan menghormati area-area di masjid yang membutuhkan keheningan.
Ada beberapa hal yang bisa dilakukan oleh orang tua untuk menyiapkan anak yang ramah masjid.
1. Pastikan sebelum berangkat, ajak anak dialog apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan.
2. Anak yang belum selesai toilet training pastikan menggunakan pampers yang benar
3. Ketika membawa anak-anak usia di bawah 5 tahun, ambil posisi paling ujung agar ketika anak melakukan gerakan yang tidak diperlukan tidak mengganggu jamaah
4. Untuk anak-anak di bawah 10 tahun yang belum bisa tertib, pastikan berada di samping Anda
5. Ketika khutbah Jumat, pastikan Anda atau orang dewasa berada dekat anak agar mudah untuk mengingatkan jika mereka bicara
6. Evaluasi lah bersama anak Anda selesai shalat atau berkegiatan di masjid. apa yang tidak boleh tapi tetap mereka kerjakan
7. ada lagi? Silahkan tambahkan ya
Menteng, 24 April 2022
#babahaca #humancenterededucation