Seorang alumni datang pada saya beberapa hari lalu. Kami bincang santai tentang apa yang sudah dicapainya pasca lulus dari Sahabat Alam. Saya dan istri menemuinya, berdua.
Ada pertanyaan menarik dari lelaki muda ini, “Menurut dokter Ayu, sebagai psikiater , apakah membentak-bentak itu bisa menguatkan mental anak ? ”
“Menurut kamu bang , bagaimana ?” Tanya balik kami kepadanya.
“Gak ada sih, malah membuat kita tidak nyaman” sambungnya.
“Aku tahu itu gak bener, tapi aku gak tahu alasannya mengapa, maka itu aku bertanya ke pak Rizqi dan Dr Ayu”
Pertanyaan ini muncul karena dia melihat berita perploncoan di sebuah lembaga pendidikan. Menurutnya, ini cara-cara kuno dan tak mendidik. Membentak-bentak bukan cara yang tepat. Bahkan bagi seorang anak yang punya riwayat trauma, bisa jadi ini malah membuat dalam traumanya.
Mental atau jiwa punya kebutuhan. Kebutuhan atau makanan jiwa itu haruslah sesuai dengan fitrahnya. Membentak-bentak bukanlah makanan bagi jiwa manusia. Bukanlah fitrah bagi jiwa manusia. Tak ada satupun manusia yang ingin dibentak, dibandingkan, disudutkan, atau juga dikritik.
Satu lelaki muda dengan cara pandang seperti ini, tentu membahagiakan kami. Cukup satu lelaki muda dengan cara pandang yang sehat, mampu mengguncang dunia.
Tahura Sultan Adam, 22 Desember 2022