Sepekan ini, saya mendapatkan beberapa cerita yang terkait wellbeing/mental health.
Pertama, dari seorang psikolog di Jawa yang juga guru bagi saya dalam menimba ilmu kesehatan mental.
“Saya terbersit ide nih untuk materi di hebatin.com. Terkait wellbeing/mental health at school, termasuk bahas bullying di dalamnya. Kalau lihat statistik mental health di gen z kan termasuk buruk ya”
Saya barusan dari satu SDN di sebuah kota. Setelah acara, 2 bocah kelas 5 minta ngobrol pribadi. Ternyata dua-duanya merasa ingin bunuh diri. Yang satu malah pernah coba.
Kedua, mendapatkan cerita dari seorang psikiater di Kalimantan tentang seorang anak yang berprestasi sejak SD hingga SMA, tapi kemudian mutung dan membuat orang tuanya bingung karena gak tahu maunya anak apa
Ketiga, cerita dari seorang Kepala Sekolah SMP di Kalimantan tentang siswanya yang memiliki hipertensi padahal masih pra remaja. Dan beliau melihat, bisa jadi itu disebabkan karena adanya kesehatan jiwa yang kurang baik karena anak ini emosinya meledak-ledak di sekolah. Beruntungnya, beliau mengatakan bahwa sekolah yang beliau pimpin tidak ditekan oleh Yayasan untuk mengejar nilai akademis dan prestasi-prestasi sehingga beliau bisa fokus untuk menyelesaikan masalah mental health itu.
Ya, seperti kata psikolog tersebut, mental health belum menjadi isu yang dianggap penting di sekolah-sekolah. Sedikit sekolah yang sudah menjadikan mental health ini sebagai isu. Salah satunya sekolah di Kalimantan yang kepala sekolahnya bercerita di atas itu.
Sebenarnya, bahkan bukan hanya mental health, tapi kesehatan jasmani juga belum menjadikan isu penting di sekolah. Lihat saja, tidak ada program yang terlalu jelas di sekolah-sekolah terkait kesehatan jasmani selain adanya jadwal pelajaran olahraga. Tidak ada program yang sistematis dan terukur dengan baik. Meski, di tingkat TK dan SD masih terbantu pihak Puskesmas dengan program-programnya.
Kembali ke mental health.
Sedikitnya sekolah yang menjadikan isu mental health ini sebagai hal yang penting di sekolah tak lepas dari terlalu lamanya pendidikan di Indonesia terjebak pada hal-hal yang artificial. Akademis menjadi hal utama dan lokomotif untuk mencitrakan sekolah unggul.
Mengurus mental health ini bukan sekedar mengahdirkan seorang pakar untuk memberikan ceramah di sekolah, tapi bagaimana kemudian mengatur program sekolah, menetapkan capaian akademis yang sehat untuk mental anak, membuat iklim yang kondusif bagi relationship, memperpendek waktu belajar anak dan memberikan kesempatan anak untuk menyampaikan perasaannya.
Ini PR besar dan pekerjaan berat, penuh usaha karena isu mental health ini tak menjanjikan untuk menghadirkan piala, juara-juara dan prestasi-prestasi yang terukur yang selama ini menjadi perhatian yayasan dan investor pendidikan. “Sekolah yang saya bangun ini, prestasinya apa ?”
Kebun Cengkeh – Kota Ambon, 16 September 2022