Di Olimpiade 2020 di Tokyo, seorang ratu senam asal Amerika yakni Simone Biles, secara mengejutkan mengundurkan diri dari ajang Olimpiade. Dan yang mengejutkan adalah, bukan karena cidera fisik yang membuatnya mundur dari ajang itu. Tapi karena kondisi psikologisnya sedang tidak baik-baik saja. Simone mengalami gangguan cemas dan depresi. Hal itu yang menjadikan alasannya mundur dari Olimpiade.
“Saya perlu fokus pada kesehatan mental tanpa mengancam kesehatan dan kesejahteraan saya,” kata Simone ketika mengungkapkan alasan kemundurannya.
Pilihan ini tidak mudah tentunya. Tapi, Simone membuat pilihan yang sangat tepat. Kesehatan mental itu mempengaruhi banyak hal. Termasuk akan mempengaruhi pikiran dan kesehatan fisik itu sendiri.
Yang sering menjadi hambatan untuk mundur adalah bukan pertimbangan diri, tapi pertimbangan orang di luar sana, tekanan publik, tekanan pelatih, tekanan orang tua yang merasa bahwa perjuangan sudah sejauh itu dan sayang sekali jika dihentikan.
Orang tua (baca : Juga guru, pelatih, organisasi, sekolah) yang kadang merasa terpukul dengan adanya keinginan mundur dari seorang siswa. Pertemuan dengan ahli jiwa bahkan kadang bukan untuk menyelesaikan masalah gangguan jiwa anak, tapi bagaimana membuat anak kembali bersemangat bertanding. Orang tua merasa happy ketika anak kembali bertanding. Padahal, bisa jadi kondisi mental anak memang sedang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.
Pertimbangan mundur tidaknya Simone Biles murni karena pertimbangan dirinya, support sytemnya (pelatih dan organisasi) yang kemudian memberikan support untuk itu. Maka, ketika seorang siswa mundur atau tidak dari sebuat pertandingan, apapun alasannya, maka pertimbangan siswa adalah yang utama, bukan pertimbangan orang dewasa. Apalagi menjadikan panggung siswa itu sebagai cara untuk memenuhi kebutuhan narsistik kita sebagai orang dewasa
Panarung, 9 Februari 2023
#BabahAca
#HumanCenteredLeadership
#HumanCenteredEducation
#MentalHealthAtSchool