Panggung Anak untuk Kebutuhan Narsis Orang Tua

Ronaldo Nazario, salah satu pemain bintang Brazil menyarankan agar Neymar mendapatkan bantuan psikolog pasca tersingkirnya Brazil dari ajang Piala Dunia 2022 di Qatar. Ronaldo Nazario adalah pemain (sekarang mantan pemain bola) yang cukup peduli pada isu-isu kesehatan mental. Bukan tiba-tiba tentu mengapa Ronaldo meminta ini, karena dia melihat kondisi psikologis Neymar yang cukup terpuruk pasca tersingkirnya Brazil. Bahkan di kesempatan lain, Ronaldo menyarankan agar ada psikolog dan psikiater ada di ajang piala dunia. Ketatnya kompetisi sering membuat kondisi psikologis seorang pemain menjadi sangat tertekan. 

Kondisi semacam ini, sebenarnya tidak hanya menimpa seorang pemain besar dan ajang kompetisi besar saja, tapi juga terjadi pada anak-anak yang mengikuti kompetisi-kompetisi baik di level sekolah, daerah maupun nasional. Di tahun 2006, saya pernah membaca di majalah Inspired Kids, seorang pelatih bola di Ragunan mengatakan bahwa kompetisi harusnya baru bisa dilakukan pada remaja usia 17 tahun ke atas, karena secara mental sudah lebih siap menghadapi kondisi-kondisi yang di luar ekspektasinya. Pelatih bola tersebut mengatakan bahwa di bawah usia 17 tahun itu, tidak ada kompetisi yang benar-benar serius. Just for fun saja, karena memang secara mental anak usia di bawah itu belum siap untuk menghadapi tekanan yang cukup besar. Menyiapkan mental bukan dengan membenturkan dengan sebuah kompetisi yang ketat, tapi dengan latih tanding (sparing) dan skilnya. 

Sayangnya, orang tua yang tidak siap untuk itu. Orang tua (baca : guru juga) ingin segera melihat anaknya bertanding dalam kompetisi dan memenangkan pertandingan. Kemenangan dan kekalahan anak akan dilihat sebagai keberhasilan dan kegagalan orang tua. Ketidaksiapan orang tua ini yang sering membuat tekanan untuk anak. Beberapa anak akhirnya menjadi terganggu kesehatan psikologisnya karena tekanan ini. Orang tua kerap menjadikan panggung anak ini sebagai cara untuk menaikkan kepercayaan dirinya, karena menagnggap bahwa keberhasilan anak dalam kompetisi ini adalah keberhasilan pengasuhannya. 

Sebagian orang tua mengatakan bahwa ini adalah pilihan anaknya sendiri untuk mengikuti kompetisi. Tapi jangan lupa, anak memilih itu apakah karena memang sudah diberi banyak pilihan-pilihan kegiatan, atau memilih karena respon kita sebagai orang tua yang hanya memberikan apresiasi pada kemenangan anak dan tidak memberikan apresiasi yang cukup pada hal-hal lain yang dilakukan anak tapi tidak mendapatkan kemenangan. Mana yang terjadi ?

Panarung, 9 Februari 2023

#BabahAca

#HumanCenteredLeadership

#HumanCenteredEducation

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *